Beranda / Berita & Artikel / Detail

Buka Puasa Iluni FHUI 2017

http://www.hukumonline.com, 30-06-2017 15:20

"Mereka Bicara tentang Integritas Advokat Jelang Buka Puasa"

Bulan Ramadhan sebagai momen khusus melatih hawa nafsu bagi yang menjalankannya juga menjadi sarana meningkatkan sikap-sikap mulia dalam diri manusia. Salah satunya sikap amanah yang dapat dimaknai sikap dapat dipercaya. Bagi profesional hukum seperti advokat, dapat pula dimaknai sebagai integritas.

Begitulah antara lain tausiah jelang berbuka puasa yang disampaikan Fauzul Abrar. Pria yang menjalankan profesi advokat ini memberikan tausiah di depan peserta Buka Puasa Bersama Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia, di kawasan Kebayoran Baru Jakarta, Senin (12/6) kemarin.

Advokat adalah profesi mulia; ia adalah officium nobile. Seorang advokat tak hanya piawai menyampaikan argumentasi di depan sidang pengadilan, tetapi juga secara lancar mengingatkan peran manusia sebagai penanggung jawab atau pemimpin (khalifah) di muka bumi. Jika dilandasi sikap tanggung jawab atas amanah yang diberikan Tuhan, maka advokat akan bersikap amanah atau berintegritas. (Baca juga: Urgensi Pembentukan Dewan Etika Profesi Advokat Nasional).

Karena itu, Fauzul mengajak para hadirin yang kebanyakan adalah advokat untuk menyadari bahwa integritas adalah sikap yang harus selalu dijaga dalam menjalankan profesi advokat. Sikap integritas ini menjadi penting tidak hanya untuk membangun hubungan baik secara sosial namun juga ikut serta menunaikan peran ikut menegakkan hukum. (Baca juga: Hakim Agung: Korupsi Tidak akan Berkurang Hanya dengan Penegakan Hukum).

“Sekarang ini menjadi tantangan buat kita, advokat untuk memegang komitmennya sebagai profesi dan menjalankan kode etik, menjalankan undang-undang yang memang harus dipatuhi, sekarang kode etik aja kadang-kadang dilanggar,” katanya kepada hukumonline usai tausiah.

Melli Darsa, pendiri dan partner dari firma hukum Melli Darsa & Co sependapat dengan Fauzul mengenai pentingnya menjaga integritas sebagai advokat. Integritas adalah basis dari profesi advokat. Profesi advokat tidak boleh hanya menjadi sarana mengumpulkan uang dengan menghalalkan segala cara, namun harus dengan integritas profesi dalam melayani masyarakat pencari keadilan dan menegakkan hukum.

“Kita harus melayani masyarakat pencari keadilan, pihak-pihak yang teraniaya, dengan menggunakan ilmu hukum yang kita punya. Kalau kita nggak punya integritas, moralitas, etika, tidak mungkin kita bisa jalankan dengan baik,” ujarnya.

Melli sepakat bulan Ramadhan memiliki esensi untuk meningkatkan sikap-sikap mulia termasuk integritas profesional sebagai advokat. Advokat harus selalu memperbaharui usaha-usahanya dalam mengabdi kepada masyarakat, kepada negara hukum, kepada keadilan. “Ini bukan semata-mata untuk mencari uang, jabatan, tetapi benar-benar bagaimana untuk membagi, membantu yang lemah, yang tidak punya,” tambahnya.

Managing Partner firma hukum AHP sekaligus Ketua ILUNI FH UI, Ahmad Fikri Assegaf, melihat tengah terjadi krisis integritas yang secara umum dihadapi bangsa Indonesia dan secara khusus di kalangan advokat hingga saat ini. Bagi para advokat, persoalan integritas menurutnya telah dipahami secara keliru. Terjadi sikap memisahkan antara ritual keberagamaan dengan komitmen integritas dalam menjalani profesi advokat, dimana seakan-akan orang bisa menjadi Muslim yang baik tanpa menjadi advokat yang berintegritas, seakan-akan keduanya berjalan terpisah. “Padahal itu satu kesatuan, bahwa sebagai Muslim kita punya kewajiban untuk jadi advokat yang berintegritas,” ujarnya.

Fikri berharap para lulusan Fakultas Hukum UI dapat selalu menjadi contoh profesional yang memiliki integritas dalam setiap bidang yang ditekuni. “Kita berharap alumni FH UI bisa selalu jadi contoh dalam sektor ini,” kata Fikri.

Fauzul sendiri juga mengajak tidak hanya profesional hukum, tapi para hadirin yang berkecimpung dalam jabatan publik agar lebih serius membenahi integritas diri selama bulan Ramadhan. Sebagai bulan yang membuat banyak orang lebih mendekat pada Tuhan, Fauzul melihat ada peluang besar untuk memperbaharui komitmen integritas pribadi dan menguatkannya. Apalagi pada dasarnya ia menilai bahwa dalam Islam integritas itu sendiri adalah sifat kemanusiaan yang melekat sebagai anugrah dari Allah. Hanya saja sifat ini luntur akibat lemahnya komitmen manusia menjalankannya.

Ia menambahkan bahwa integritas bagi kalangan advokat harus terus terjaga baik saat mulai merintis karir maupun saat mencapai puncaknya. Sedikit atau banyaknya klien, populer di kalangan advokat ataupun tidak, integritas diri dalam praktek advokat harus selalu dijaga.

“Bulan Ramadhan inilah menjadi waktu, momen yang pas karena pada saat ini kita menjadi dekat dengan Tuhan. Ketika kita mendekat ke Tuhan, maka sebetulnya sifat-sifat Tuhan, sifat-sifat Allah itu akan juga turun kepada kita,” tutupnya.

Tinggal bagaimana menularkan sifat-sifat baik itu kepada seluruh pemangku profesi hukum!


Share this post :